Asal Mula Keluarga

SILSILAH KELUARGA PAGUYUBAN :

“ESTHI WALUYO”

Alkisah, bermula dari 2 (dua) pasang cikal-bakal keluarga kita, Eyang Suparmi + Eyang Aspar dan Eyang Sastrotenoyo + Eyang Warsih.         

A. EYANG SUPARMI yang konon pernah bersuami dengan beberapa orang (bukan poliandri karena tidak bersamaan sekaligus. Pasti nenek kita ini menjadi ‘bunga desa’ kala itu).
Salah satu suaminya adalah EYANG ASPAR (kalau melihat keturunan mereka -ya kita-kita ini-, Eyang Aspar agaknya memiliki penampilan bak selebritis sehingga mampu menaklukan hati sang ‘bunga desa’). Semasa hidupnya, beliau menjabat sebagai Carik (Sekretaris) Desa Brani-Sampang yang sekarang di sana terdapat makam keluarga seperti Eyang Aspar, Eyang Suparmi dan Bapak Sarwin.

Pasangan selebritis ini kemungkinan besar berasal dari daerah sekitar Banyumas sehingga kental dengan dialek Banyumasan yang ‘ngapak-ngapak’. Cikal bakal mereka ada yang berasal dari daerah Kroya dan Adipala (merunut dari lokasi makam para leluhur kita yang ada di sana). Namun entah kenapa, akhirnya kita lebih mengenal domisili mereka berada di Sampang-Maos (sebuah kota kecamatan di kabupaten Cilacap propinsi Jawa Tengah), tepatnya di desa Karangtengah, persis sebelah barat ibu kota kecamatan Sampang ke arah Cilacap.

Dari pasangan ini, lahirlah 3 (tiga) orang anak yakni Sarwin, Darikin dan Marliyah.

1. Sarwin (alm) yang berdomisili di Purwokerto, kita kenal dengan Waluyo Sarwin Wiryosiswoyo menikah dengan Esthi Soewarni (almh), menurunkan 10 (sepuluh) orang anak yakni mbak Pratiwi (almh) cs.

2. Darikin (alm) yang berdomisili di Cilacap menikah dengan Mariam (almh) menurunkan 9 orang anak yakni dik Sri Kundari cs.

3. Marliyah (almh) yang terakhir berdomisili di Jogja menikah dengan Soekardi (alm) menurunkan seorang anak yakni dik Suwardiyah (dan seorang lagi yakni Ismardi)

Selanjutnya, (setelah meninggalnya Eyang Aspar atau karena bercerai, Eyang Suparmi menikah lagi dengan …seorang Lurah/Kepala Desa yang menurunkan Roemiyah dan Roestam, kemudian menikah lagi dengan …. seorang Guru dan menurunkan Soemarti dan W. Soedirman.

4. Roemiyah (almh) menikah dengan Rahmad (sekarang suami dik Soewardiyah) menurunkan seorang anak yakni Nining Rahmad.

5. Roestam (alm) menikah dengan … menurunkan 1 (satu) orang anak yakni Ariswati.

6. Soemarti yang masih segar-bugar berdomisili di Bantul Jogja (pernah di Banjarnegara) menikah dengan Slamet Puspo (alm) menurunkan …. orang anak yakni Waluyo cs.

7. W. Soedirman (alm) berdomisili di Sampang-Maos menikah dengan …. menurunkan …. orang anak

B. EYANG SASTROTENOYO yang lebih dikenal dengan nama mbah Klerk karena beliau pernah menjadi pegawai Kereta Api di Bandung sebagai juru tulis (kala itu merupakan sebuah jabatan istimewa bagi seorang pribumi, sebab jabatan ini membutuhkan keahlian tulis menulis dan bahasa Belanda yang memadai). Beliau menyunting seorang gadis mungil bernama WARSIH. Pasangan ini sebenarnya berasal dari daerah Purworejo Jawa Tengah atau tepatnya di kecamatan Kaligesing area pegunungan Menoreh berbatasan dengan DIY. Mereka menurunkan 4 (empat) orang anak:  Soedjadi Prajitno, Soewandi, Esthi Soewarni dan Soewarsi.

1. Soedjadi Prajitno (alm) memilih pasangan hidupnya dengan Mukminah (almh) yang semasa hidupnya bertempat di desa Sendangsari Majenang dan dikaruniai 4 (empat) orang anak yakni mbak Hasiyah Indiati (almh) cs.

2. Soewandi (alm) yang menikahi Dj. Mardijati (almh) dan dipercaya ‘momong putra’ 4 orang anak yakni mas Menot cs.

3. Esthi Soewarni (almh) disunting oleh Waluyo Sarwin Wiryosiswoyo dan menurunkan 10 orang anak yakni Pratiwi (almh) cs

4. Soewarsi (almh) disunting pria gantheng Soewarno Wardoyo yang menurunkan 8 orang anak yakni Sri Kuntari cs

(Ada temuan baru dari mas Agung -Oemar Bakri- yang mbaurekso tlatah Ciguling dan sekitarnya khususnya tentang asal muasal simbah Sastrotenoyo, begini critanya……)

Asal muasal trah Ciguling adalah dari seorang narendro gung binathoro yang bergelar/asesulih Raden Mas Bei Mangundijoyo (dulu fotonya ada, tp saya lacak blm ketemu entah dimana, siapa yg tau tlg diinfokan) beliau berasal dari Ngayogyakarta hadiningrat- seorang prajurit keraton pengikut P. Diponegoro yang mengungsi ke tlatah kulonprogo- Kaligesing (Goa Kiskendo) karena anti kolonial belanda. Raden Mas Bei Mangoendidjojo kemudian menikah dengan seorang putri gunung yang kemudian menurunkan putro-putri antara lain: Mbah Warsi, Mbah Nangsi, Mbah Katri, Mbah Parto putri, Mbah Rusmi, Mbah Mangun putri. dll

Trah. Mbah Warsih:

Warsih seorang putri pambayun yang cukup cantik, bersih dan cerdas serta memiliki intelegentia tinggi dan berkemampuan manajemen bak seorang jenderal dipersunting seorang Priyayi yang berpendidikan tinggi ukuran waktu itu, yang bernama Sastrotenojo, beliau juga berasal dari tlatah Pandanrejo, putra seorang Glondong di daerah tsb.

Sepasang kekasih tersebut menurut ceritanya tidak betah tinggal di gunung, maka kemudian turun gunung, eksodus ke negeri yang lebih makmur ke wilayah Majenang (tepatnya ciguling)

Sastrotenojo kemudian bekerja di kantor pemerintahan (skrg. Kecamatan) sebagai ‘Clerk’ atau juru tulis, sebuah jabatan yang cukup terpandang waktu itu (tahun 1920 an)

Dari perkawinan tersebut kemudian Melahirkan apa yang sering disebut ‘The big Four’ atau cikal bakal sing papat . karena beliau menurukan putra-putri :

1. Soedjadi Prajitno (Mbah Jadi)

2. Soewandi (Mbah Wandi)

3. Soewarni (Mbah Ni) kemudian Esthi Soewarni

4. Soewarsi (Mbah Si-ji)

(Demikian tambahan info sejarah dari mas Agung. Matur nuwun pak guru…yen wonten malih, nyuwun tulung dipun bagi. Saged via email ybhendro@yahoo.com)

GENERASI KE DUA

A.1. Waluyo Sarwin Wiryosiswoyo (lebih dikenal pak Sarwin) konon dilahirkan di desa Brani kecamatan Sampang-Maos kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Menikah dengan Esthi Soewarni (almh) dan tinggal di Cilacap sampai melahirkan anak ke 5 (Bambang Prijo Soenyoto, alm). Pada masa perjuangan, pak Sarwin berjuang sebagai guru dan pernah berteman dengan Soedirman (sebelum menjadi Panglima Besar). Begitu akrab hubungan ke duanya, menurut cerita ibu Esthi Soewarni (almh), Soedirman dan Sarwin sering bermain bulutangkis di depan rumah pak Sarwin.

Sekitar tahun 50-an, keluarga ini pindah ke Purwokerto, di desa Pasirmuncang (di daerah Sawangan) , tepat di tepi rel kereta api. Pak Sarwin bekerja di Djawatan Penerangan kabupaten Banyumas. Konon beliau aktif sebagai pembina olah raga seperti tenis lapangan dan sepak bola. Beliau adalah salah satu pemrakarsa berdirinya stadion sepak bola pertama di Purwokerto (di area Universitas Jenderal Soedirman, sekarang)

Merger dengan Ibu Esthi Soewarni, ber dua menurunkan 10 (sepuluh) orang anak, 5 (lima) orang putra dan 5 (lima) orang putri. Mereka adalah: Pratiwi Sri Warningsih (Prat, almh), Ratna Soemera Asiati (Titik, almh), Wasito Heru Pratignyo (Itok), Esthi Susilo Yudiastuti (Yud), Bambang Priyo Sunyoto (Bambang, alm), Wasisto Herisdiyanto (Heris), Budhi Hendro Priyono, AMK, SKM (Hendro), Wiji Widiastuti (Wiwit), Listyorini Utami (Lis), Bambang Sigit Haryanto (Iit).
 
Sepeninggal suaminya yang meninggal pra kelahiran anak bungsunya, Iit, bertepatan dengan masa-masa sulit yang menerpa kehidupan sebagian besar bangsa ini, ibu Soewarni harus berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya. Satu-satunya anak yang sudah berkeluarga hanyalah si sulung Pratiwi yang setelah menikah tinggal bersama suaminya di Pati Jawa Tengah.
 
A.2. Darikin Kartodharsono (alm) yang berdomisili di Jln Argopuro No 7 Cilacap menikah dengan Maryam (almh) menurunkan 9 orang anak yaitu  Sri Kundari (Yuti),  pensiunan guru SMP Negeri I Cilacap),  Kundaryati (almh),  Prof. Dr. H. Supriyono Eko Wardoyo (Sup),  pensiunan peneliti perikanan Darat di Bogor), Ir. H. Gutomo Hardo Punagianto (Gut) (pensiunan Karantina Tumbuh2an di Lampung), Dr. H. Argono Rio Setioko (Argono, peneliti utama di Balai Penelitan Ternak Ciawi, Bogor,  Siswanti Arti Pribadi (Siswanti, pensiunan Penerangan di Cilacap),  Hj. Witarti Esti Purwani (Wiwit, pensiunan PT Semen Nusantara Cilacap), Ratna Sunarti Prabawani (almh) (Ani, meninggal saat masih kecil) dan  Hj. Peni Pudji Turyanti SH, MH (Peni, bekerja di Departemen Perhubungan, Jakarta).

A.3. Marliyah (almh) yang terakhir berdomisili di Jogja menikah dengan Soekardi (alm) menurunkan seorang cewek cantik, Suwardiyah (dan seorang cowok cakep, Ismardi). Eyang Marliyah yang lebih sering dipanggil bu Mar, pernah bekerja sebagai ibu asrama perawat di RSK Ngesti Waluyo Parakan Kabupaten Temanggung. Namun, agaknya bu Mar lebih nyaman tinggal di desa asalnya, Karang Tengah Sampang Kabupaten Cilacap. Bu Mar sebenarnya memiliki tingkat kesehatan yang relatif prima. Gara-gara isu Tsunami yang sempat menggemparkan tempat tinggalnya, dalam suasana kepanikan yang luar biasa, bu Mar bermaksud ‘diselamatkan’ oleh penduduk sekitar rumahnya dengan terburu-buru. Alhasil, bu Mar sempat cedera patah tulang pangkal paha dan harus dirawat di Yogyakarta. Beliau tinggal bersama keluarga anak perempuannya pasca operasi sampai dipanggil Yang Empunya.

GENERASI KE TIGA

A.1.1. Pratiwi Sri Warningsih (yu Prat, almh) dinikahi Sandiman Djoko Pratiwo dan menurunkan 3 (tiga) orang anak plus 1 (satu) keponakan yang diakukan sebagai anak pertama mereka. Mereka adalah: Budiyono (Budi), Gatot Eko Suprasetyo (Yoyok), Dwi Nugroho (Nunuk), dan Dyah Triwahyuni Puspitosari (Nunik, almh).

Semasa hidupnya, Pratiwi mengabdi sebagai guru SR (Sekolah Rakyat) di desa Ciguling kecamatan Majenang kabupaten Cilacap. Di desa ini pula, konon ia berkenalan dengan cowok ganteng seorang anggota Brimob, Sandiman (mas Man), yang sedang bertugas pasca pemberontakan DI/TII. Sandiman berasal dari Boyolali Jawa Tengah. Mereka menikah di Purwokerto di rumah tinggal orang tua Pratiwi dan selanjutnya tinggal di asrama Brimob Pati Jawa Tengah mengikuti tugas mas Man. Mendekati masa-masa pensiun, mereka memutuskan pindah dan menetap di Pantok Purworejo Jawa Tengah mendekat ke asal muasal keluarga ibunda Pratiwi. Beliau berdua sudah mendahului kita dan dimakamkan di sebelah perumahan KBN Purworejo tempat tinggal mereka setelah pensiun.

1.2. Ratna Sumera Asiati (mbak Titik, almh) yang dinikahi Albertus Soewarto (pak Warto) dan menurunkan 2 (dua) orang anak. Mereka adalah: Wening Retnaningdyah Lombawati (Dyah), dan Rahardhian Deddy Dirgantara (Dedi).

Mbak Titik berprofesi sebagai guru TK, pernah mengajar di Temanggung dan di PT Perkebunan Balong, Pati Jawa Tengah, di kaki gunung Muria. Setelah menikah dengan pak Warto yang seorang petani tulen, mbak Titik meneruskan pengabdiannya sebagai guru TK di pegunungan Menoreh tempat cikal bakal keluarga ibunya sampai masa pensiun. Mbak Titik meninggal dan dimakamkan di makam Desa Pandanrejo Purworejo.
 
 1.3. Wasito Heru Pratiknyo (mas Itok) menikah dengan Dwiharsi Yoewati (mbak Har) dan menurunkan 3 (tiga) orang anak. Mereka adalah: Harsrinuksmo Pramadi (Ipang), Hariwidianto Pambudi (Ipung), Hariendro Apriadi (Iping).

Masa remaja mas Itok dilalui di Purwokerto bersama orang tuanya.  Sepeninggal ayahnya pada masa-masa sulit, ia merantau sampai ke Surabaya, bekerja bersama seorang dokter gigi terkenal di kotanya. Di kota ini ternyata bukan hanya keberuntungan finansial yang didapat. Seorang gadis imut berhasil ia persunting. Dwiharsi Yoewati  (mbak Har) yang  masih ada hubungan keluarga dengan mas Itok ini, menjadi tambatan hati mas Itok dalam segala suka-duka dan berbuah kasih 3 (tiga) orang cowok ganteng-ganteng.  Keluarga Itok kini tinggal di Manukan Tengah, Tandes, Surabaya.

1.4. Hj. Esthi Susilo Yudiastuti (Yud) menikah dengan H. Mohamad Astiyono (Yon). Berdua menurunkan 4 (empat) orang anak, 2 cewek 2 cowok. Mereka adalah: Arie Kurniyantini (Arie), Andi Setyo Wicaksono (Andi), Dyah Pangestuningtyas (Dyah), dan Gigih Priyo Wibowo (Gigih) .

Sebagaimana saudara-saudaranya, mbak Yud juga menghabiskan masa remajanya di Purwokerto. Pernah bertualang sampai Bali bersama keluarga mbak Iin (anak I pakdhe Sudjadi Prayitno) yang menikah dengan mas Wayan. Yud remaja ini bekerja  di PT Panamas dan menjadi tumpuan banyak saudaranya. Ibu Esthi Soewarni-pun diboyong bersama si ragil Iit.  Atas pertimbangan tertentu, Yud pindah dan bekerja di Surabaya. Cowok ganteng Astiyono yang lebih dikenal dengan Yon, berhasil memikat hati Yud. Agaknya karena merasa bahwa Surabaya bukan tempat asal keluarganya, maka mereka melangsungkan pernikahan di desa Ciguling Majenang yang merupakan cikal-bakal keluarga Yud. Kembali ke Surabaya. Di kota Pahlawan inilah awal eksodus sebagian besar keturunan Sarwin & Soewarni.  

Masa-masa sulit pernah mereka lakoni. Atas perkenan Yang Maha Kuasa dan berkat doa sang Ibunda yang tiada henti, perlahan-lahan mereka mulai mapan menanam bibit-bibit kehidupan di kota Sidoarjo. Suka-duka mereka lalui dengan penuh syukur. Beberapa orang cucu ikut menghiasi dan melengkapi kebahagiaan mereka.

Pasangan ini agaknya dipilih Tuhan menjadi tempat transit bahkan mondoknya banyak saudara untuk mengadu nasib di kota Buaya. Agaknya bukan hanya keturunan Sarwin yang sempat merasakan transit hidup di rumah tinggal Yud. Beberapa keponakan dan keluarga jauh juga pernah memulai hidup bersama Yud. PT HM Sampoerna menjadi ladang tempat Yud bekerja sedangkan Dolog Jatim menjadi tempat bekerja suaminya, Yon. Mereka kini tinggal di Perumahan Dolog Jatim, Buduran Sidoarjo.

1.5. Bambang Priyo Sunyoto (Alm), konon mas Bambang ini meninggal  pada usia masih kanak-kanak ketika keluarganya masih tinggal di Cilacap awal tahun’50 an. Makam almarhum bersebelahan dengan makam Ibu Darikin di kompleks pemakamam Karangsuci Cilacap. Tidak banyak yang saya ketahui tentang almarhum.

1.6.Wasisto Herisdianto (Heris), menikah dengan Sri Astuti (Tutik). Merger ke duanya menghasilkan 2 (dua) orang cewek cantik Dewi Indria Swastika (Iin) dan Ruli Sarasati (Ruli). Ke duanya masih tinggal serumah dengan ortunya di rumah baru mereka setelah rumahnya yang lama (Perumahan Tambakrejo Indah) terendam lumpur Lapindo beberapa waktu yang lalu. Mas Heris bekerja di Kedawung Subur Surabaya sejak masa mudanya. Masa kecil mas Heris di Sawangan Purwokerto sampai kelas 3. Sepeninggal ayahnya, mas Heris bersama Hendro, adiknya, diasuh oleh buliknya di desa Ciguling, Majenang sampai menyelesaikan SDnya di SD Cilopadang I. Selanjutnya meneruskan sekolah di Sekolah Tehnik (ST) di Majenang. Dia melanjutkan STMnya bersama keluarga kakak sulungnya Pratiwi-Sandiman di Purworejo. Lulus STM, mas Heris bergabung dengan keluarga besarnya di Surabaya. Ia bekerja dan berkeluarga di Sidoarjo Jawa Timur sampai sekarang.

1.7.YB Hendro Priyono, AMK, SKM (Hendro) menikah dengan Rosaria Endang Sri Widiastuti, AMK (Endang). Berdua menurunkan 4 (empat) orang cowok. Mereka adalah: Abimanyu Hendi Asyono, SE(Abi), Adityas Mahendra Putra, S.Ked (Adit), Alfredo Hendrasta Putra (Edo), dan Aristo Hendrasta Putra (Risto).

Hendro lahir dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di Purwokerto. Masa kecil yang membahagiakan di Sawangan sebelah utara rel kereta api, masih mudah diingatnya.  Tatkala masih duduk di bangku TK PJKA yang tak jauh dari rumah ortunya, ia pernah diajak main film “Sehelai Merah Putih” sebagai anak sang pemeran utama, Pujiati. Film yang bertema kemerdekaan ini disutradarai oleh Alam Rengga Surawijaya, membawanya ikut shooting di beberapa tempat sampai ke Jakarta, ibukota yang saat itu sangat asing baginya. Oleh sang ayah, ia juga dibimbing dalam dunia seni pentas yang lain. Peran anak dalam beberapa drama yang disutradarai oleh sang ayah, sering ia lakoni bahkan pernah sampai ke kota Semarang. Deklamasi di sekolah dan event-event lain, sering diikutinya.

Masa kecil Hendro selalu bersama kakaknya Heris. Usia mereka yang hanya selisih 2 (dua) tahun dan kebetulan selalu sekolah satu kelas, tampak seperti anak kembar walaupun bukan berarti selalu rukun. Seperti Heris, Hendro sejak  kelas 3 SR (Sekolah Rakyat) juga diasuh oleh buliknya di desa Ciguling, Majenang sampai menyelesaikan SDnya. Tamat SD, Hendro melanjutkan SMP di Pati bersama Pratiwi kakak sulungnya. Atas tawaran bu Marliyah (buliknya) dan bantuan pak Rachmad, SH (omnya), Hendro sekolah perawat RSK Ngesti Waluyo di Parakan Temanggung selama 2 tahun. Setamat sekolah perawat (Penjenang Kesehatan “C”), dia bekerja di RS Emanuel Purwareja Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah sampai sekarang. Sempat melanjutkan sekolah setara SLTA di SPK Sidoarjo dan tinggal bersama keluarga mbak Yud-mas Yon yang serumah dengan ibunya, Esthi Soewarni selama setahun. Bersama istrinya, Endang SW, dia melanjutkan sekolah D3 Keperawatan di Universitas Muhamaddiyah Purwokerto. Terakhir Hendro melanjutkan S1 nya (Kesehatan Masyarakat) di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

(bersambung, sambil menunggu konfirmasi dari para nara sumber yang lain)

Data di bawah ini datang dari mas Argono, matur nuwun mas

Pak Darikin menikah dengan Ibu Mariam dan melahirkan 7 anak, yaitu Sri Kundari (pensiunan guru SMP Neg 1 Cilacap), Prof. Dr. Supriono Eko Wardoyo, pensiunan peneliti prtikanan di Bogor, Ir. Gutomo Hardo Pungadianto, pensunan Karantina Tumbuh2an di Lampung, Dr. Argono Rio Setioko, peneliti utama di Balai Penelitan ternak, belum peniun, karena peneliti peniunnya 65 tahun, sekarang udah 60 tahun, kemudian Siswanti Esti Pribadi, pensiunan Dinas Sosial (kalau gak salah) di Cialacap, Witarti Esti Purwani, pensiunan PT Semen Nusantara Cilacap dan terakhir Peni Puji Turyanti SH, sekarang masih aktif di Dept Perhubungan, Jakarta. ebetulnya ada 9, tapi yang 2 sudah meninggal waktu masih kecil, yaitu Kuntari (kalau tidak salah), yaitu kakaknya mbak Sri Kundari, dan Ani, yaitu adiknya Witari atau Wiwit.

Info di bawah ini dari mas Bud Sudjadi

Dari keluarga Soedjadi Prajitno & Mukminah :

1. Hasiyah Indiati (alm, wafat th 2007), Denpasar

2. Indrarso Prajitno (purnawirawan AD), Bandung

3. Irawati (purnawirawan KOWAD), Jakarta

4. Indrabudi Sudjaewo (PNS), Bandung

15 Comments

15 thoughts on “Asal Mula Keluarga

  1. gytha mudzz

    asal mula kluwarga kta kan dri mbah “ESTHI WALUYO” kan,,
    gtu aj kok gug d isi,,
    hehehehe,,
    just kidding lhouw,,

  2. Argono

    Mas Hendro,
    Info tambahan :Pak Darikin menikah dengan Ibu Mariam dan melahirkan 7 anak, yaitu Sri Kundari (pensiunan guru SMP Neg 1 Cilacap), Prof. Dr. Supriono Eko Wardoyo, pensiunan peneliti prtikanan di Bogor, Ir. Gutomo Hardo Pungadianto, pensunan Karantina Tumbuh2an di Lampung, Dr. Argono Rio Setioko, peneliti utama di Balai Penelitan ternak, belum peniun, karena peneliti peniunnya 65 tahun, sekarang udah 60 tahun, kemudian Siswanti Esti Pribadi, pensiunan Dinas Sosial (kalau gak salah) di Cialacap, Witarti Esti Purwani, pensiunan PT Semen Nusantara Cilacap dan terakhir Peni Puji Turyanti SH, sekarang masih aktif di Dept Perhubungan, Jakarta. ebetulnya ada 9, tapi yang 2 sudah meninggal waktu masih kecil, yaitu Kuntari (kalau tidak salah), yaitu kakaknya mbak Sri Kundari, dan Ani, yaitu adiknya Witari atau Wiwit. Saya pernah nulis silsilah eyang kakung kita, eyang Aspar, tapi nanti saya cari dulu, kalau ketemu saya kirim ke Mas Hendro. Ma kasih
    Argono

  3. Indrabudi Sudjarwo

    Untuk menambah khasanah asal usul keluarga:
    Dari keluarga Soedjadi Prajitno & Mukminah :
    1. Hasiyah Indiati (alm, wafat th 2007), Denpasar
    2. Indrarso Prajitno (purnawirawan AD), Bandung
    3. Irawati (purnawirawan KOWAD), Jakarta
    4. Indrabudi Sudjaewo (PNS), Bandung

  4. Om Iit

    Selamat datang di Blog kita mas Bud, masih ingat saya nggak si ragil sing nduableg dari bu Ni he he he…
    Mas kita sangat berharap kel Pakde Djadi bisa hadir pada reuni Juli mendatang, tolong ya mas dikoordinir biar reuni bisa tambah rame dan membuat kita semua ora kepaten obor.
    Ok salam dan sampai jumpa di Majenang.

  5. Maz Hend

    siiip siiip siiip tenan.

    thengkyu banget u info tambahan baik dari sayap kanan (dik Argono) maupun sayap kiri (mas Bud).
    kita pasti lengkapi sejarah keluarga kita yang sangat luarrr biasa sejak dulu.
    saya tunggu tanggapan n tambahan info2 baru demi sempurnanya menu Asal Mula Keluarga kita.

    konon mas Sosok pernah punya angan2 mempersatukan keluarga sayap kiri, sayang beliau sedang gerah. kita support beliau dengan mewujudkan keinginan yg pernah terpendam selama ini. semoga lekas sembuh, mas. kami semua mendoakan dan bersimpati. GBU

    salam kami dari Klampok:
    Hendro, Endang, Abi, Adit, Edo dan Risto

  6. Maz Hend

    Pro: Mas Bud (pakdhe Jadi), Mas Menot/Mas Dandun, n dik Argono (paklik Darikin), dll

    Menu “Asal Mula Keluarga” mulai sudah masuk Generasi Kedua. Tolong kirimi data/cerita2 populer tentang keluarga kita supaya anak cucu kita bisa mengenal keluarga kita lebih mendalam.
    Data yang sudah terkirim menjadi masukan yang sangat berharga untuk kita yang lain.

    Saya ingin minta pendapat tentang orang tua kita, tentang pengalaman saat pernah bersama atau pernah mendengar dari orang tua kita tentang saudaranya yang lain.
    Misalnya: tentang Paklik Darikin, saya pernah dengar kalau beliau pernah mengasuh rubrik radio dengan nama “Paklik”; Pak Sarwin dengan “Cablaka”; Pakdhe Wandi pernah seangkatan dengan Yasir Hadibroto (pejuang kemerdekaan); dll.

  7. Luhkito Hadisoemarto

    Untuk menambah khasanah asal usul keluarga:
    Dari keluarga Achmad Hadisoemarto & Salamah :
    1. Bidayati Hadisoemarto (Jakarta), kontak : 0216402877
    2. Wurdiyati Hadisoemarto (Jakarta), kontak : 02164022514
    3. Haryono Hadisoemarto (Alm. Wafat di Cilempuyang 2005)
    4. Luhkito Hadisoemarto (Pensiunan PNS), Bandung; Kontak 0227568448
    5. Nurhasanah Hadisoemarto, Majenang
    6. Mufti Syarif Hadisoemarto, Kuningan, Kontak : 02326005215

  8. mas Luhkito Yth.

    Saya senang bisa tambah sedulur baru.
    maaf, saya belum banyak kenal panjenengan. jika mas berkenan, tolong critakan tentang bpk Achmad Hadisoemarto dan Ibu Salamah dan hubungannya dengan nenek moyang kita di atas (Mbah Soeparmi dan mbah Sastrotenoyo) sebagai cikal bakal paguyuban ini.
    Matur nuwun sanget. Sungkem katur Bapak Ibu dan salam untuk saudara2 semua.

    Hendro,
    Anak ke 6 dari Bp Waluyo Sarwin Wiryosiswoyo & Ibu Esthi Soewarni

    • Luhkito Hadisoemarto

      Wuah saya sendiri demi bln puasa yg penuh barokah ini, nyuwun sewu tidak banyak tahu sampai ke Detail. Yang saya sedikit remeng-remeng adalah bahwa saya dengan Dik Soso (alm) itu masih satu buyut. Ibu saya (Alm) Salamah biasa dipanggil Yu (kakak) oleh Bulik Muminah. Mbah saya itu crita Ibu saya adalah saudara Tua Mbah Rana (Bapaknya Pak Soewandi, Bu Bariyah, Bu Muminah, dll).
      Lah Bapak saya (Alm) Achmad Hadisoemarto itu perantau dari Lumbir, dulunya ikut buyut dan mbah saya, eh kena penyakit Cilok (Cinta Lokasi) dan Nikah dengan Ibu saya. Terakhir sampai saya selesai SMA th1968 Bapak saya menjabat jadi Kepala Desa Cilempuyang, Juru tulisnya (Alm) Bapak Darmosoewito ya suaminya Ibu Bariyah, adiknya Ibu Muminah. Gitu Mas Hendro.

      Salam.
      Luhkito

      • Baik mas,

        di kolom Pengurus EstWal kita sdh saling kenal
        silakan langsung gabung di wilayah Bandung dan sekitarnya or kontak mas Bud saja.
        andai lebaran ini diadakan halal bihalal u wil Bandung dan sekitarnya, sy kira baik sekali
        dua tahun ke depan kita berencana mo reuni lagi, dibahas sekalian saja mas.

        salam EstWal….!!!!

  9. sms dr keturunan Bp Roestam (adik Ibu Roemiyah, generasi ke dua dr Eyang Soeparmi) menikah dg Ibu Soetari, menurunkan seorang anak Riswati Wasjud, mempunyai 4 anak:
    1. Rochaeni Latihanningsih
    2. Bambang Wasiyanto
    3. Triutami Setiyowati
    4. Dewi Lestari

  10. Ar, dudu mbanya yuti tapi adiknya atau mba saya, jenenge takon yuti kayane kundiarti tapi dudu kuntari.

  11. mas Sup,

    saya tunggu editingnya lho, khususnya u cerita2 ttg kesepuhan yang saya gak tahu banyak. nuwun

  12. R. Setyaningsihh

    Mas Hend, Pak Roestam itu kakaknya ibu Roemiyah anak dari mbah Parmi dan Pak Lurah mBrani, kayaknya yang bener begitu lho !
    Pak Roestam + Bu Tari ——-> Riswati
    Roemiyah + Rachmat ———> Nining
    Soewardiyah + Rachmat ———> 1. Rinto 4. Dina
    2. Rudi 5. Tika (Alm)
    3. Dani 6. Anto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: